Bangsa yang Katanya sih Merdeka

  • Bagikan
Puisi Tentang Merdeka
Sumber: Detik.com

Puisi Tentang Merdeka –

Rempah-rempah sudah digelar di lapak pedagang

Gemerincing uang logam terdengar dari dompet emak-emak

Suara tawar menawar terdengar dari nada do hingga si

Nyanyian halus itu disahuti juga oleh motor yang lewat

Pagi-pagi buta melintas di depan pom bensin taman siswa

Pasar itu sudah dipadati oleh para pedagang kecil

Mereka sudah berada di sana? Ya, mungkin sudah 2 jam

Sayuran hijau di sana sudah siap bahkan di saat pejabat belum siap bangun

Wajah emak-emak itu tidak ditutup PPKM, hanya ditutup masker

Mereka masih dapat berjualan, meski terbatas

Terus disalahkan karena terus keluar rumah

Diteriaki karena menyebarkan virus ke sana kemari

Ya, setidaknya itu lah yang dihujatkan publik kepada mereka

Meski sudah berhati-hati dan menerapkan prokes

Terkadang dunia ini kejam

Kamu harus mati karena virus atau kamu harus mati karena kelaparan

Teringat aku pada suatu malam di musim kemarau

Aku melangkah bersama sahabatku ke tempat yang menjual kopi hangat

Malam itu begitu dingin, maklum bumi baru saja aphelion di bulan sebelumnya

Ku pesan segelas kopi aceh menghangatkan badan

Seorang penjaja gorengan, orang asli kotagede menawarkan gorengannya di depan kami

Bersepeda dari kotagede hingga daerah seturan, membawa satu box gorengan

Seharian ia menjajakan gorengan, aku lihat isi box itu masih terisi setengah

Di bawah topi putih, senyum riang saat aku beli gorengan itu 20 ribu

Ia bercerita sejenak sambil menghela napas, keringat wajahnya tersorot lampu jalan

Ia berjualan demi menafkahi istri dan anaknya di rumah

Dalam kunyahan, glukosa gorengan mengirim stimulant ke saraf-saraf ku

Apa fungsinya gedung-gedung itu berdiri di Jogja?

Baca Juga:  Perempuan Yang Memilih Kesepian: Puisi-puisi Nasir Josadewan

Orang-orang Jogja malah berada di pelukan selimut-selimut usang

Di pelukan tembok-tembok kusam yang menopang rumah mereka

Sedang mereka si pemilik modal bisa tidur di kamar ber-AC

Ya, si pemiliki gedung bertingkat, perusahaan konglomerat, rekan para pejabat

Mari mengetuk pintu rumah warga Jogja, melihat senyum paling tulus dari mereka

Diam tinggal di perkampungan padat penduduk, tidak ada rumah besar real estate di sana

Pendatang menguasai tanah di kota, membangun gedung usaha

Tergusur, itu lah diksi yang tepat menggambarkan warga Jogja yang terpinggir

Slurrpp, Kopi kembali ku sruput

Membasuh sisa-sisa gorengan di mulut

Tersentak lah aku “orang-orang menyebut kita merdeka?”

Apa arti merdeka jika bangsa kita belum menerima keadilan sosial

Setidaknya, itulah sebuah realita sosial pada malam itu

Dua mahasiswa yang ditemani sruputan kopi Aceh untuk memaknai kemerdekaan

Seorang penjaja gorengan yang masih dapat berjualan sebelum pandemi

Ssssttt, ada pejabat, taipan, dan bos-bos berduit yang sedang tidur nyenyak

Kembali lagi ke malam senyap di tengah pandemi

Dingin sepi saat diberlakukannya PPKM

Selentingan kabar wara wiri di media-media

Sebuah kabar pengocok perut pun hadir

Coba tebak siapa nama cucu presiden ini?

Dia berpengaruh daan amat nasionalis

Saking nasionalisnya, balihonya ada dimana-mana

Itu bukan pencitraan, tapi program membuat lapangan kerja bagi industri percetakan

Selang beberapa hari ada medali emas dari olimpiade

Sebuah hadiah bagi bulan kemerdekaan

Sepasang atlit itu bercucur keringat untuk mengukir sejarah

Kita pun bersorak-sorak kegirangan

Para pejabat negara pun sangat kegirangan

Negara langsung memberikan banyak hadiah untuk para atlit kita

Sebagian pejabat menghadiahinya dengan ucapan selamat

Ku kira poster itu berisi wajah para atlit, ternyata poster itu berisi wajah pejabat

Baca Juga:  Warung Pak Ali

Suka miris membaca wajah negara ku

Pejabatnya dikit-dikit nyari panggung sana-sini

Tapi mau bagaimana lagi? Memang kelakuan pejabat seperti itu

Sebagian lain mengisi medianya dengan acara romansa dan hura-hura

Panel-panel kritik perlahan diberhentikan acaranya

Lah wong yang punya media koalisi sama partainya

Ada sihh ruang untuk mengkritik, tapi dimana-mana ada pembunuhan karakter

Anda mengkritik pemerintah? Siap-siap aib anda dibongkar ke publik

1980 George Orwell

Puisi Tentang Merdeka

Mata ada dimana-mana

Otak mu dikendalikan negara, berpikir pun dilarang

Siksaan yang dalam jika kita memiliki pikiran yang tidak sama dengan Bung Besar

Masih dari kejenuhan George Orwell

Mereka yang dahulu memperjuangkan hak rakyat kelas bawah

Berhasil menggulingkan orang kelas atas

Tetapi mereka malah menjadi orang kelas atas yang baru

Mereka lupa siapa dan apa tujuan mereka dulu

Mereka justru menjadi penindas baru, di situ lah karma datang

Mereka digulingkan oleh orang-orang yang memperjuangkan rakyat kelas bawah

Para aktivis itu kemudian menang, dan menjadi orang kelas atas yang baru

Para pemuda terus-terusan menggulingkan penguasa

Setelah itu mereka menjadi penindas baru

Tak berapa lama muncul lagi pemuda baru yang menggulingkan penindas lama

Terus berulang hingga rakyat kecil tak dapat apa-apa

Begitu lah kutipan novel yang aku celotehkan jadi butiran sajak puisi

Gores demi gores, huruf demi huruf aku coba maknai merah putih

Berkibar di sepanjang agustus, apakah hanya sebatas bendera

Kibaran itu memaknai kemerdekaan bangsa yang berdaulat

Ku coba lihat wajah negara ku

Masih banyak rakyat kelaparan sedang pejabatnya banyak anggaran

Ku tertawa saat dewan dikarantina difasilitasi negara

Padahal banyak desa di pedalaman yang tidak terjangkau rumah sakit

Baca Juga:  Kasih Sayang Bencana: Puisi-puisi Nasir Josadewan

Merah merona dari buah nanas yang baru muncul

Hidupnya masih panjang hingga ia bisa dipanen

Daun-daun kering kecoklatan menutupi tanah

Biru cerah warna langit, burung wallet beterbangan ke sana kemari

Indah sekali pemandangan di lembah itu, tanah nya sangat luas

Seluas itu pula desa yang tidak terjangkau fasilitas kesehatan

Disitu tidak dibangun rumah sakit, biar gak ada hutan yang digusur

Kalo tambang batubara dibuka, itu bukan perusakan alam, kata buzzer nya sih

Membuka Kawasan ibukota baru, itu namanya pembangunan

Kalau fasilitas daerah terpencil dibangun, gak boleh

Itu merusak alam, nanti banjir lagi banjir lagi..

Begitu lah saat kritik saya dimatikan buzzer di kolom instagram

Ini lah gambaran bangsa yang merdeka

Lembaran puisi ini saya cukupkan dalam lagu setiap ketikan

Dalam suara detik jam di tengah malam, tik tik tik

Dalam dinginnya, eh salah hangatnya pelukan selimut konglomerat

Baca juga artikel tentang ‘TWIBBON HUT RIdan artikel puisi lainnya di rubrik ‘SASTRA’.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan