Darah dan Doa: Manusia dan Revolusi

  • Bagikan
darah dan doa: manusia dan revolusi

Darah dan Doa merupakan merupakan film yang ditahbiskan sebagai awal mula karya film orisinil Indonesia. Dasar pertimbangannya karena film ini punya nilai idealis dan pengkarya asli orang Indonesia mulai dari sutadara, aktor hingga dana. Tanggal 30 maret 1950 adalah tanggal dimulainya produksi. Pasca reformasi yakni tahun 1999, Presiden Habibie menetapkan tanggal ini sebagai Hari Film Nasional.

Dalam proses pembuatan film ini, Usmar Ismail harus menjual tanahnya untuk membiayai hampir seluruh aspek baik dari alat sampai aktor. Untuk meminimalisir dana, Usmar mengajak bergabung  teman-teman yang ia percayai. Bahkan di aspek aktor, tidak ada yang terkenal alias pemula seluruhnya adalah aktor teater yang ia kenal dan diajak bergabung. Imbasnya, banyak pemeranan aktor yang kurang mendalami atau bisa dibilang gagal. Usmar memang mengiyakan bahwa film ini dibuat terburu-buru sebab ia sudah ambis namun film ini dibuat dengan sepenuh hati.

Film ini menceritakan aksi polisionil Belanda akhir 40-an khususnya perjalanan aksi Long March pasukan devisi siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Mereka juga menghadapi perang dengan pemberontak yang berasal dari negeri sendiri yang menginginkan negeri islamiyah. Kisah berpusat pada karakter kapten Sudarto yang memimpin pasukan bersama sahabatnya, Adam. Sudarto yang menginginkan kebebasan dan sangat menempatkan sisi kemanusiaan di atas segala-galanya, sedangkan Adam adalah seorang yang sangat teguh pada aturan. Namun, kedua sahabat ini selalu bisa mengatasi perbedaan ini karena kedekatannya. Karena kisah aksi perjalanan tersebut Darah dan Doa memiliki nama lain The Long March.

Alur cerita dibuka dengan suara narator “Ini adalah kisah perjalan pasukan Tentara Nasional Indonesia. Juga kisah perjalan hidup manusia dalam revolusi. Kisah dibuka dengan darah, dan air mata. Cerita tentang harapan dan doa yang tidak putus-putusnya”. Kemudian gambar pemandangan alam pegunungan disertai para prajurit yang berjalan dibukit-bukit dan jembatan.

Baca Juga:  Film Hicki (2018): Ilmu Pengetahuan Tak Boleh Jauh Dari Realitas

Kisah dalam film ini hanya mengisahkan eksistensi manusia dalam  kancah revolusi Indonesia, bukan pejuang dari segi kepahlawanan. Mulai dari Bung Darto Sang Kapten yang sudah beristri jatuh cinta pada seorang gadis Indo-Jerman bernama Connie yang mengungsi di markas Batalyon. Karena kedekatan hubungan ini, Connie dikirim ke Bandung oleh Kapten Adam tempat asalnya karena membuat prajurit tidak suka.

Selama perjalanan, Kapten Sudarto kembali menemukan tambatan hati, Widya seorang suster yang merawat prajurit terluka. Kejadian ini kembali memunculkan pergunjingan di tengah prajurit. Adam sebagai sahabat yang memiliki karakter disiplin dan taat selalu mengingatkan Darto, khususnya status Darto sebagai pemimpin pasukan yang patut diteladani dan keluarga yang senantiasa menunggunya.

Sudarto sangat menyesali perbuatannya. Apalagi saat Widya gugur saat mencoba mengobati prajurit yang terluka. Dalam tragedi perang dahsyat yang kedua ini, Sudarto juga harus merelakan sahabatnya. Adam tidak bisa terselamatkan meski sempat dirawat. Dari tragedi yang sukar ia terima ini, Sudarto semakin memahami apa yang dimaksud revolusi menurut Adam. Revolusi yang mempersatukan makhluk yang tadinya bermusuhan. Revolusi yang menceraikan mereka yang berkasih-kasihan. Anak bunuh bapak. Saudara bunuh saudara.

Tragedi anak bunuh bapak, saudara bunuh saudara terjadi saat pasukan siliwangi berhasil menaklukan pemberontakan Darul Islam (DI). Pemimpin DI pun berhasil ditangkap dan diadili. Melalui perdebatan panjang, Pemimpin DI harus dieksekusi mati, dengan ditembak. Prajurit yang diperintah untuk mengeksekusi adalah Sersan Sumbara Karta. Sumbara sangat tertekan, sebab yang dieksekusi adalah ayahnya sendiri. Demi revolusi, Sumbara harus mengeksekusi sebab ia sudah diberi amanah.

Melalui berbagai kejadian sukar. Apalagi saat jadi menjadi tawanan perang lalu menjadi gelandangan akibat dikeluarkan dari tentara. Sudarto semakin menyadari kesalahannya. Prinsip hidup yang menurutnya kemanusiaan harus berada diatas segala-galanya semakin kuat. Hal ini tergambarkan saat Darto duduk dibelakang meja sembari membaca catatan hariannya dalam sebuah ruangan  akan diserang oleh orang yang tiba-tiba menyelinap di kegelapan.

Baca Juga:  10 Rekomendasi Film Perjuangan Kemerdekaan, Untuk Menemanimu.

Sudarto lebih memilih memilih mati daripada harus membunuh saudara sebangsa. Dengan suara terbata-bata, Sudarto berpesan kepada penembak yang bermotif balas dendam “jangan ulangi, biar aku saja”. Pesan Bung Darto tetap relevan sampai saat ini, dimana pertumpahan sesama bangsa masih muncul meskipun tanah air sudah merdeka.

Memang dari segi cerita Darah dan Doa memilik cerita yang kuat, sarat pesan dan juga bermain sastra. Sebab Usmar juga seorang sastrawan. Kita akan mengalami kebosanan diawal cerita saja. Dari segi teknis film pertama Usmar Ismail yang bersumber dari jerih payahnnya sendiri tidak terlalu mengecawakan. Teknik pengambilan gambar didominasi penggunaan long take, sedikit sekali yang menggunakan close up. Alhasil penonton kurang mendapatkan ketegangan saat perang. Namun tetap kaya pergerakan kamera dan komposisi kuat. Sementara dari sisi akting banyak dari aktor yang terlihat kaku.

Film ini patut mendapat apresiasi. Digarap dengan berdarah-darah dan penuh harapan terciptanya negara yang guyub, damai dan harapan khusus untuk perfilman Indonesia yang supaya idealis. Sesuai judul Darah dan Doa.

Darah dan Doa | 1950 | Sutradara: Usmar Ismail | Penulis: Usmar Ismail, Sitor Situmorang
| Produksi: Perfini | Negara Indonesia | Pemain: Del Juzar, Suzanna, Aedy Moward, Farida, Sujtipto, Awal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan