Kisah Inspiratif dr. Lie Darmawan, Seorang Dokter Dengan Hati Malaikat

  • Bagikan
Kisah Inspiratif dr. Lie Darmawan, Seorang Dokter Dengan Hati Malaikat

Kisah Inspiratif dr. Lie Darmawan – Seorang dokter yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di daerah 3 T (terpencil, terluar, dan terjauh).

Kisah Inspiratif dr. Lie Darmawan

Banyak yang mengenal beliau karena telah membuat Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Darmawan. Tetapi tidak banyak yang mengetahui kesulitan hidup yang beliau hadapi hingga bisa mendirikan RSAnya. Intimidasi sebagai etnis Tionghoa, terlahir dari keluarga miskin, kesulitan sekolah, dan masih banyak kisah pahit lainnya yang beliau hadapi.

Masa Kecil dr. Lie Darmawan

Terlahir dengan nama Lie Tek Bie, Beliau lahir dan tumbuh di Padang, Sumatera Barat. kondisi keluarga yang miskin dan status mereka yang merupakan etnis tionghoa membuat keluarga Lie menghadapi banyak sekali intimidasi. Sewaktu kecil ia melihat adik kecilnya meninggal di pelukan ibunya, melihat ibunya menangis sedih, Lie kecil pun bertekad untuk menjadi dokter dan berjanji kepada Ibunya akan menghapus air mata kesedihan menjadi air mata kebahagiaan.

Adik Lie meninggal karena diare yang sangat parah, keluarganya tidak mampu membawa adiknya berobat ke dokter ataupun rumah sakit. Lie merasakan sakit yang sangat dalam ketika melihat adiknya menahan sakit saat diare.

Ketika Lie bercita-cita menjadi dokter, ibunya memberikan pesan yang sangat dalam dan terus dipegangnya sampai sekarang. “Tek Bie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapa pun. Tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak mempunyai uang untuk membeli beras”.

Perjuangan saat Kuliah dr. Lie Darmawan

Lie yang ingin meneruskan pendidikannya menjadi dokter menerima intimidasi. Lie berulang kali ditolak oleh banyak fakultas kedokteran dari berbagai perguruan tinggi. Ini tidak lain karena namanya yang masih bernama Lie Tek Bie, ya pada saat itu intimidasi terhadap etnis tionghoa masih tinggi.

Baca Juga:  279 Juta Data Penduduk Indonesia Bocor dan Diperjualbelikan

Tak patah semangat, Lie dibantu kakak dan keluarganya bekerja keras untuk membeli tiket One Way untuk berangkat ke Jerman. Dengan bekal seadanya Lie berjuang untuk dapat kuliah di Free University, Berlin. Lie mengaku kerja untuk membiayai kuliahnya.

Lie awalnya ditertawakan oleh teman-teman kuliahnya karena tidak lancar berbahasa Jerman. Lie membalas perlakuan itu dengan belajar serius. Lie mengaku tidak mempunyai uang untuk membeli buku, sehingga ia selalu pergi ke perpustakaan setelah selesai kelas kuliah. Lulus dengan predikat yang sangat baik, Lie muda pun melanjutkan S2 dan S3 di Jerman.

Setelah lulus, banyak rekan kuliah dan dosennya yang meminta Lie bekerja di Jerman. Tetapi karena Indonesia lebih membutuhkan dokter, Lie pulang untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi. Lie ingin menepati janjinya dengan sang ibu, menghapus air mata kesedihan mengubahnya menjadi air mata kebahagiaan.

Perjalanan sebagai Dokter dr. Lie Darmawan

Saat akan memulai praktik di Indonesia, Lie memerlukan program adaptasi. Ia pun mengajukan program adaptasi di suatu perguruan tinggi di Indonesia. Penolakan demi penolakan ia terima hingga 2,5 tahun lamanya.

Suatu intimidasi ia dapatkan saat satu perguruan tinggi di Indonesia mengucapkan “nama seperti ini tidak bisa diterima di sini”. Meski begitu, ia tetap ngotot untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi. Dengan hati yang masih penuh dengan rasa sakit hati, Lie Tek Bie akhirnya mengubah namanya menjadi Lie Agustinus Darmawan. Lie pun akhirnya mendapat izin praktik di Indonesia.

Pada tanggal 26 Maret 2009, saat ia mengabdi di Pulau Kei kecil di Maluku Tenggara, Lie mendapatkan pasien anak perempuan. Pasien itu dibawa ibunya berlayar 3 hari 2 malam untuk menuju tempat praktik dr. Lie.

Baca Juga:  Sejarah Hari Pramuka dan Makna Tema Dan Logo Hari Pramuka 2021

Awalnya anak itu dibilang mabuk laut karena terus memuntahkan apa yang ia makan, tetapi dr. Lie mengatakan tidak mungkin anak Maluku yang dari kecil diajarkan melaut bisa mabuk laut. Anak itu pun didiagnosis terkena hernia dengan usus terjepit, dia harus mendapatkan tindakan operasi berat secepatnya. Hernia dengan usus terjepit paling lambat harus dilakukan tindakan operasi paling lambat 6 jam setelah terjadi, tapi sebuah keajaiban datang. Pasien yang melewati lautan 3 hari 2 malam dapat ia selamatkan.

Kejadian itu mengetuk hati dr. Lie untuk meneruskan pengabdiannya, mendatangi atau menjemput bola ke tempat yang terpencil, terluar, dan terjauh. Itulah yang menginspirasi beliau untuk membuat Rumah Sakit Apung (RSA).

Meski idenya sudah ada sejak tahun 2009, tetapi karena keterbatasan biaya beliau baru bisa merealisasikan itu tahun 2013. Beliau ini memiliki spesialisasi di bedah umum, bedah thorax, bedah pembuluh darah, dan bedah jantung. Dengan spesialisasi dan pengalaman, pada tahun 2013 beliau bisa saja bekerja di rumah sakit elit dengan bayaran mahal dan menjadi kaya raya, tetapi apa yang dilakukan beliau? Beliau justru menjual rumah beliau untuk membeli sebuah kapal bekas untuk dijadikan Rumah Sakit Apung yang berlayar keliling Indonesia untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi mereka yang membutuhkan.

Itulah sedikit kisah perjuangan dr. Lie yang diintimidasi oleh Pemerintah dan lembaga-lembaga di Indonesia. Tetapi semangat dan kecintaannya pada Ibu Pertiwi tidak pernah luntur. Sekarang meski ibunya telah tiada, dr. Lie telah menepati janjinya “menghapus air mata kesedihan menggantinya dengan air mata kegembiraan”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan