Mengingat Tsubasa Ozora Dunia Nyata, Shunsuke Nakamura Si Kidal Mematikan

  • Bagikan
Mengingat Tsubasa Ozora Dunia Nyata, Nakamura Si Kidal Mematikan

NONGKI.NET – Berlari di tengah lapangan rumput yang hijau. Bola di kakinya, begulir dengan lincah. Lari, lari, lari (lari lari lari). Tendang dan berlari. Dengan tendangan halilintar dia cetak gol. Saat itu dialah pahlawan kita.

Begitulah penggalan lirik lagu Captain Tsubasa yang menjadi satu di antara kartun favorit di Indonesia bahkan dunia. Captain Tsubasa tidak hanya sekadar tokoh kartun, tapi juga merupakan inspirasi bagi para legenda sepak bola dunia dan legenda Timnas Jepang Sendiri, Shunsuke Nakamura.

Saat Shunsuke Nakamura pindah dari Celtic ke Espanyol, pemain yang lahir 24 Juni 1978 atau bertepatan dengan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1978 di Argentina antara Brasil versus Italia. itu ditanya apakah ia menonton “Campeones: Oliver y Benji”, nama Spanyol serial Kapten Tsubasa.

“Saya memperoleh pertanyaan yang serupa ketika berada di Italia. Tokoh favorit saya adalah Benji,” katanya.

Mensejajarkan Nakamura dengan Tsubasa soal prestasi memang berlebihan, karena kita tahu Captain Tsubasa menceritakan soal bocah laki-laki yang punya mimpi besar menjadi pesepak bola nomor satu dunia dan akhirnya berhasil mencapai impiannya dan membawa negaranya menjadi juara dunia.  Sedangkan prestasi tertinggi Nakamura hanya berhasil membawa Timnas Samurai Biru menjadi yang terbaik di Asia (2000 dan 2004). Dia adalah orang pertama dan satu-satunya yang menerima penghargaan Pemain Terbaik J.League lebih dari sekali, yakni pada tahun 2000 dan 2013.

Namun soal pengaruh dalam lapangan Nakamura dan Tsubasa memiliki kesamaan, keduanya merupakan roh permainan, dikenal sebagai pemain yang memiliki kreativitas dan teknik olah yang baik. Selain itu, Nakamura dan Tsubasa memiliki posisi dan nomor punggung yang sama di Timnas, sebagai gelandang serang dan pemain lubang. Tsubasa selalu menyelamatkan timnya dari kekalahan sedangkan Nakamura sering menyelamatkan timnya dari kekalahan, oleh karena itu pecinta sepak bola di awal 2000-an menjulukinya sebagai Tsubasa Ozora dunia nyata.

Seperti halnya Tsubasa yang memiliki tendangan yang terkenal maut, Nakamura juga memiliki hal itu. Banyak sekali gol yang ia ciptakan melalui tendangan kaki kirinya yang melengkung khususnya tendangan bebas.

Baca Juga:  Mengingat Abu Bakar ar-Razi: Ilmuwan Muslim Asal Iran Penemu Cacar

Pada Piala Konfederasi 2005, tepatnya tanggal 22 Juni Jepang sebagai wakil Asia berhasil menahan imbang 2-2 Brazil yang pada saat itu dihuni oleh pemain-pemain bintang seperti Ronaldinho, Robinho, Adriano. Jepang berhasil membuat kedua gol berkat aksi Nakamura, setelah tertinggal lebih dahulu 1-0 dari Brazil oleh aksi Robinho.

Pada menit ke-27 Nakamura yang bebas dari pressing lalu melancarkan tendangan roket melekung ke gawang Brazil yang kemudian berhasil mengecoh Dida. Menjelang menit akhir babak kedua, Jepang memiliki kesempatan menyamakan kedudukan setelah tertinggal lagi dari Brazil lewat aksi pemain bernomor punggung 10 sekaligus kapten, Ronaldinho.

Nakata pemain andalan Jepang selain Nakamura dilanggar oleh bek Brazil yang memutuskan wasit memberikan tendangan bebas, Nakamura sang eksekutor tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bola melekung dengan pelan ke tiang gawang Brazil yang kemudian disambar pemain Timnas Jepang berhasil dikonversi menjadi gol.

Tidak hanya di sektor Timnas, di sektor klub Nakamura juga memberi memori buruk bagi klub besar dan fansnya.

Salah satunya terjadi pada musim 2006/2007, Nakamura yang saat itu memperkuat Celtic bertemu dengan Manchester United pada matchday pertama Grup F Liga Champions. Kedua kesebelasan tergabung dalam grup bersama Benfica dan Copenhagen. Meski lokasi kedua kesebelasan tidak terlalu jauh, pertemuan ini menjadi pertemuan pertama antara Celtic dan MU pada ajang antarklub Eropa.

MU saat itu unggul 2-1 setelah dua gol  Louis Saha membuat MU berbalik unggul setelah tertinggal terlebih dahulu oleh Jan Vennegoor of Hesselink. Menjelang babak pertama berakhir, Celtic memperoleh tendangan bebas pasca Jiri Jarosik dilanggar oleh Wes Brown. Disinilah aksi Nakamura dimulai.

Shunsuke Nakamura sebenarnya mengeksekusi tidak terlalu kencang, namun arah bolanya tidak bisa diatasi oleh Edwin Van der Sar. Penjaga gawang hanya diam melotot bola melengkung ke sisi kiri gawang kiper Timnas Belanda tersebut. Sebenarnya gol memperoleh bantuan dari Louis Saha yang tidak melompat meski menjadi pagar betis. Gol ini sempat mengembalikan semangat Celtic untuk bisa menahan MU meski pada akhirnya mereka tetap kalah karena Ole Gunnar Solskjaer pelatih MU sekarang ini mencetak gol pada awal babak kedua.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif dr. Lie Darmawan, Seorang Dokter Dengan Hati Malaikat

Kalah di Old Trafford, Celtic berhasil membalas MU ketika bermain ke markas Celtic, Celtic Park. Mereka kalah dengan skor 0-1. Apes bagi MU, karena orang yang membuat mereka kalah adalah Nakamura. Saat itu Van der Sar mencoba melakukan penyelamatan sambil terbang, tetapi roket melengkung Nakamura masih jauh lebih cepat dibanding penyelamatan terbang sang penjaga gawang.

“Saya senang dapat mencetak gol seperti itu di Celtic Park. Itu adalah gol paling penting yang pernah saya buat dalam karir saya karena itu adalah pertandingan besar,” kata Nakamura pada situs resmi Celtic.

Seorang yang menonton ulang highlight Celtic VS MU di Youtube yang berakhir 1-0 mengungkapkan “Saya berada di stadion kala itu. Penonton sangat bising saat Nakamura akan melakukan tendangan bebas. Itu sangat jauh, dia tidak mungkin mencetak gol. Tapi 10 detik kemudian stadion bergemuruh dan penuh kebahagiaan.

Gol tersebut dianggap sebagai tendangan bebas terbaik yang pernah ada dalam buku The Zen of Naka, Matt Le Tissier, yang saat itu menjadi pandit Sky Sports menyebutkan kalau gol Nakamura di Celtic Park melawan United jauh lebih baik dibandingkan gol tendangan bebas Paul Gascoigne pada Piala FA 1991 melawan Arsenal, Roberto Carlos ke gawang Prancis pada Tournoi de France, atau gol tendangan David Beckham ke gawang Yunani pada kualifikasi Piala Dunia 2002.

Nakamura memulai karier profesionalnya dengan klub J1 League Yokohama Marinos pada tahun 1997, di Tim ini ia menutup kekurangannya sebab secara fisik relatif kecil dan lemah dibandingkan pemain lain, ia mengembangkan teknik bermain pribadi dengan mengutamakan kemampuan otaknya. Ia menambah porsi latihan sendiri untuk mematangkan teknik sepakbolanya. Akhirnya ia menunjukan kualitasnya dengan membuat total 338 penampilan liga selama dua kali kesempatan membela klub dengan total bermain lebih dari dua belas musim.

Bersinar di J.League ia memutuskan menerima tawaran klub asal Italia Reggina. Ada mitos Reggina rela mengirim pemandu bakat Gli Armanto hanya untuk melihat aksi Nakamura. Tidak tanggung-tanggung nomor punggung 10 yang digunakan Francesco Coza rela oleh klub diberikan pada Nakamura karena meyakini gaya permainannya.

Baca Juga:  Sejarah Hari Pramuka dan Makna Tema Dan Logo Hari Pramuka 2021

Mandat nomor 10 berhasil ia bayar di tahun perdananya, berhasil menciptakan 7 gol dan melayani ketajaman striker. Tahun kedua menjadi beban buruk baginya, ia harus sering masuk ruang medis gegara cedera. Ia hanya memainkan 16 laga yang kemudian membuat timnya terperosok meski tidak sampai terdegradasi.

Di tahun berikutnya ia masih tetap mejadi pemain inti meski pelatih berganti ke tangan Walter Mazzari, namun formasi 3-5-2 yang diterapkan Mazzari tidak cocok dengan gaya mainnya. Keluar dari tim karena ketidakcocokan strategi pernah ia lakukan saat Piala Dunia 2002 yang mana saat itu Jepang menjadi tuan rumah bersama Korea Selatan. ia menolak bergabung karena ditempatkan sebagai bek kiri, bukan gelandang serang sebagaimana favoritnya.

Kemudian Nakamura berhijrah ke Celtic dengan total biaya transfer £2.75 juta. Di awal musim bersama Celtiic, Nakamura berhasil membawa timnya mejuarai Liga Primer Scotlandia dan Scottish League Cup. Bersama Celtic, Nakamura berhasil membawa Celtic juara Liga Primer Scotlandia tiga tahun berturut-turut (2006, 2007, dan 2008), Piala Liga Skotlandia (2006 dan 2009), dan Piala Skotlandia (2007).  Pada tahun 2007, Nakamura dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Primer Scotlandia dan kemudian masuk nominasi Ballon d’Or di tahun tersebut.

Sebelum kembali ke klub asalnya di Jepang Yokohama Marinos pada 2010 Shunsuke Nakamura sempat berhijrah ke Liga Spanyol, tepatnya Espanyol. Tapi kemudian kembali ke Jepang untuk mengejar slot di Timnas Jepang supaya bisa masuk ke Piala Dunia 2010.

Pemerintah Jepang memberi nama Asteroid 29986 Shunsuke untuk menghormati jasanya. Fotonya pernah terpampang di Namco’s Football Kingdom Trial edisi 2004. Selain itu, fotonya pernah menjadi sampul video game milik Konami yaitu Winning Eleven (WE 5, WE 9, WE 9: Ubiquitous Evolution dan WE 10) di tahun 2001, 2005 dan 2006. Hingga kini Shunsuke Nakamura masih aktif bermain sebagai gelandang serang untuk klub Yokohama FC di J2 League.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan