Nailed: Drama Kelas di Negeri K-Pop

  • Bagikan
iled: Drama Kelas di Negeri K-Pop

Ban bocor di tempat yang tak jauh dari bengkel sudah menjadi lumrah di Indonesia. Orang Indonesia telah menganggap hal tersebut bagian dari akal-akalan pebengkel. Namun, jika hal seperti itu juga terjadi di negara yang ekonominya maju seperti Korea Selatan kiranya tidak akan dianggap lumrah.

Penyebabnya apalagi kalau bukan kesenjangan sosial. Disini film sebagai karya seni kontemporer turut andil membuka jendela untuk melihat dan memahami realitas yang terjadi ruang dan waktu, karena film memiliki dualisme sebagai refleksi dan representasi realitas bahkan dapat membentuk definisi realitas sosial.

Mungkin dipikiran kita saat mendengar ‘film Korea’ adalah aktor-aktornya yang keren, genre dramanya yang selalu membuat baper dan cara mereka menuturkan komedi secara berbeda. Tetapi, tentu saja ada yang istimewa dari film korea.

Dalam rilis film korea yang memiliki genre komedi dan kejahatan “Nailed” (2019), tesingkap berbagai keistimewaan salah satunya adalah menghadirkan problema dalam keluarga yang dikemas dalam cara yang unik.

Nailed merupakan debut pertama Ha Yoon-jae sebagai sutradara, yang mengisahkan kehidupan sepasang suami-istri (Jae Goo- Soon Yeong ) dengan banyak masalah. Mereka menjalankan bengkel mobil di pinggir jalan di sebuah kota kecil, tetapi penghasilan menurun secara signifikan sejak proyek pembangunan perumahan di dekatnya telah memebanjiri area itu dengan truk, yang mengarahkan pengemudi lain menggunakan rute alternatif.

Nasib pasangan itu mulai berubah, ketika sebuah mobil yang lewat menabrak paku yang jatuh dari salah satu truk kontruksi, berkahir di bengkel Jae Goo yang dengan cepat menghasilkan pengisian yang berlebihan pada kliennya. Setelah itu, ia mendapat ide untuk menyebarkan jalan dengan paku, dan pekerjaan mulai mekar, lebih dari sebelumnya. Ia pun membujuk Soon-Yeong untuk turut dalam praktik, supaya dapat membeli rumah yang sedang mereka kontrak dan memperluas bisnis bengkel mereka.

Dari kasus paku ini drama-drama sosial, komedi, dan kejahatan dimulai.

Drama kesenjangan

Ada realita menarik yang ditulis Meicky S. Pangabean dalam buku biografi “Ahok: Politik Akal Sehat” yang menurut saya relevan untuk menjadi prolog drama kesenjangan dan eksploitasi.

Baca Juga:  Review Film Gangster Korea: The Gangster The Cop The Devil

“jika ada mobil Mercedes seharga 3 miliar menabrak tukang bakso yang sedang lewat, bisa dipastikan warga serta-merta akan menyalahkan si pengemudi mobil. Padahal siapa tahu mobil sudah berlari dalam kecepatan wajar dan dikendarai pada jalur yang benar? Mungkin saja tukang bakso mendorong gerobaknya dengan cara melawan arah dan tak lama sebelum berjualan dia menenggak bir opolosan?”

Nailed menjadi bagian dari kisah kelas bawah yang tidak akan mudah disalahkan kelas atas.

Saat paku pertama berhasil memperoleh korban, Jae Goo tidak segan memberi harga tinggi pada korban yang merupakan pengawas proyek pembangunan perumahan yang tak jauh dari tempat ia tinggal. Adu mulut pun terjadi, karena Jae Goo mengganti dua ban mobil milik pengawas tersebut. Tetapi Jae Goo tetap menang dengan dalih alasan yang sesuai ia rencanakan. Akhirnya, pemerasan pertama berhasil.

Strategi pemerasan seperti itu hampir ia lakukan kepada semua korban tanpa melihat latar belakang, memang sejak ada proyek jalan tempat ia tinggal hanya dilewati mobil yang pasti berduit dan berpangkat.

Soon Yeong sebagai tokoh protagonis kedua masih berempati saat korban sudah lansia dan harus sering check ke rumah sakit, tetapi Jae Goo tetap pada motiasinya, segera membeli kontrakan dan memperbesar bisnisnya.

Ha Yoon-jae membuat titik menyoroti fakta bahwa kedua protagonis sebenarnya orang baik, meskipun tindakan mereka memeras, sementara korban mereka adalah orang-orang yang pantas ditipu, karena mereka kaya, korup atau bahkan keduanya. Pendekatan ini mungkin agak naif, tetapi pada akhirnya melayani tujuannya, terutama mengenai hiburan yang ditawarkannya, sementara konsep orang miskin yang menjadi korban keadaan mereka disajikan dengan cukup baik.

Saya kira Ha Yoon-jae menyiratkan pesan komedi bahwa kelas bawah juga bisa memeras dan menipu kelas atas. Kita memang tak bisa lepas dari ideologi “miskin lemah dan kaya menindas” yang akhirnya membentuk persepsi memaklumi jika si miskin bertindak kriminal atas nama keterpakasaan. Kemiskinan sistematis turut memperkuat ideologi tersebut.

Baca Juga:  Aku mungkin Setampan Nam Do-san, tapi Kisah Cinta ku Seperih Han Ji-pyeong

Kemiskinan sistematis yakni ketika seseorang menderita karena warisan keluarganya, korban kebijakan pemerintah, tinggal di wilayah kumuh, atau kondisi-kondisi yang tak terhindarkan lainnya. Jae Goo dan Soon Yeong dalam Nailed dinarasikan sebagai korban kemiskinan sistematis. Sejak awal penonton tak akan menemukan keluarga besar mereka, hal ini karena keluarga Soon Yeong tidak mendukung pernikahan mereka sejak awal dan menaruh dendam pada Jae Goo.

Jae Goo tidak hanya dibenci keluarga Soon Yeong, seorang pemimpin asosiasi toko lokal yang masih memendam rasa pada Soon Yeong turut membenci Jae Goo, Mr. Mun panggilannya. Mr. Mun menjadi satu-satunya orang yang mengetahui tindakan eksploitatif keluarga Jae Goo. Ia mengetahui apa yang menyebabkan bisnis mereka lancar, Mr. Mun tahu yang dilakukan jae Goo dan Soon Yeong pada malam hari di sepanjang jalan dekat mereka tinggal.

Mr. Mun sebagai pemendam rasa memanfaatkan momen untuk mendekati Soon Yeong, supaya rahasia keluarga mereka tidak menyebar, Mun menghubungi Soon Yeong lalu mengharuskan Yeong mau melayaninya saat Mun sedang rindu sebagai syarat supaya rahasia tetap terjaga.

Yang mengeksploitasi akan dieksploitasi begitulah Nailed berkomunikasi, yang dalam istilah populer kita terkenal dengan “senjata makan tuan”. Setiap orang tak ada yang ingin miskin, menuju kaya dengan cara membanting yang lain malah akan menimbulkan dendam yang tak kunjung tuntas. Disinilah kemudian keserakahan menguasai, melupakan tujuan awal mendapatkan uang; akhirnya tersungkur sendiri.

Drama Uang

Apa uang membuat kita lebih bahagia atau tidak?. Saya kira jawabannya terkesan relatif, yang jelas dengan uang orang akan saling percaya bahkan kembali percaya.

Jae Goo yang dulunya sangat dibenci keluarga Soon Yeong kembali dipercaya saat ia berhasil mendapatkan banyak uang. Impotensi yang menjadi gejala benci dilupakan begitu saja, Jae Goo diterima dan mendapat dukungan, yang seharusnya dilakukan keluarga besar saat sauadara mendapat masalah. Hal ini sesuai dalil Karl max “uang adalah alasan kita berkelahi”.

Baca Juga:  10 Rekomendasi Film Perjuangan Kemerdekaan, Untuk Menemanimu.

Uang mengembalikan nama Jae Goo, Kekayaan Jae Goo bertambah besar setelah ia tiba-tiba menemukan anak orang kaya yang hilang, yakni anak korban pertama jebakan paku yang sebelumnya ia dituduh menculik anaknya karena si pengawas proyek merasa diperas Jae Goo.

Namun uang juga berhasil merubah sifat keluarga Jae Goo. Saat target Jae Goo  terpenuhi dan statusnya diterima keluarga istrinya, Jae Goo merasa dengan kekayaannya ia harus kembali kehidupan normal, tapi berbeda dengan Soon Yeong ada obsesi baru harus diselesaikan. Disinilah uang bermain drama, sepeti Yuval Noah Harari kemukakan dalam bukunya (Money: Hikayat Uang Dan Lahirnya Kaum Rebahan “Uang bukanlah sebuah realitas material, melainkan sebuah konstruk psikologis. Ia bekerja dengan mengubah materi menjadi pikiran”. Namun mengapa berhasil?

Ada kepercayaan yang kuat disini, orang percaya pada omong kosong imajinasi kolektif sendiri. Orang percaya dengan banyak uang hidup akan bahagia, padahal keperceyaan adalah bahan baku dari semua jenis uang yang dicetak.

Ha Yoon Jae menyutradarai sebuah film yang memiliki premis dasar yang sangat menarik yang tampaknya telah diperluas secara berlebihan yang menyebabkan cerita menjadi agak hiperbola, terutama karena banyak konsep tambahan yang dimasukkan yang akhirnya menyebabkan konflik baru yang dimunculkan tidak kuat dan terkesan lebih baik digarap sebagai film pendek 30 menit daripada film panjang.

Sinematografer Kim Jung-ok berhasilan menghadirkan realitas bengkel yang hampir distopia, dan hampir tidak adanya musik menambah elemen realistis.

Nailed bukan film yang buruk dan saya kira Ha Yoon-Jae memiliki potensi. Ia berhasil menyajikan konsep utama dari kesenjangan dan komentar sosial tentang uang dan dampaknya.

Nailed | 2019 | Sutradara : Ha Yoon-Jae | Penulis: Ha Yoon-Jae | Distributor: Triple Pictures | Genre : Komedi & Kejahatan | Negara: Korea Selatan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan