Baca Ini Sebelum Berkomentar! Penjelasan Nadiem Beli Laptop senilai 2,4 triliun

  • Bagikan
Baca Ini Sebelum Berkomentar! Penjelasan Nadiem Beli Laptop senilai 2,4 triliun
Sumber: Detik.com

Nadiem Beli Laptop senilai 2,4 triliun – Baru-baru ini Kementrian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) membuat heboh masyarakat.

Penjelasan Nadiem Beli Laptop senilai 2,4 triliun

Ini terjadi karena Kemendikbud ristek pimpinan Nadiem Makariem menganggarkan senilai Rp 2,4 Triliun untuk membeli laptop. Laptop ini nantinya akan diberikan kepada siswa-siswi dan sekolah untuk menunjang proses belajar/mengajar di saat pandemi.

Fasilitas ini untuk program teknologi informasi komunikasi (TIK) di sekolah-sekolah. Program ini ditetapkan harus memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), jadi laptop ini ada minimal khusus komponen yang berasal dari dalam negeri. Setelah kami melakukan studi literasi dari beberapa sumber, ternyata apa yang masyarakat bayangkan tidak semenyeramkan yang diwartakan media. Kendati demikian tidak berarti tindakan Kemendikbud ristek 100% benar. Mari bertabayyun satu per satu.

Nilai 2,4 triliun

Kemendikbud ristek menganggarkan sekitar Rp 2,4 triliun untuk membeli 242.565 laptop yang akan didistribusikan bagi 15.656. Laptop ini tentunya tidak laptop only, tetapi juga ada penambahan beberapa perangkat seperti wireless, scanner, printer dan beberapa perangkat tambahan.

Lalu sebandingkah nilai itu dengan laptop yang didapat? Sebelum kita kesana, ada baiknya mengklarifikasi harga laptop yang bikin heboh di masyarakat. 2,4 triliun jika dibagi 240.000 laptop akan senilai +- 9 – 10 jutaan. Tetapi mengingat 1 unit laptop itu akan dilengkapi oleh beberapa hardware lain (jadi Rp 2,4 triliun tidak full dibelikan laptop), artinya harga sebenarnya laptop ini tidak sampai Rp 10 juta, melainkan berkisar sekitar 7 – 8 jutaan saja.

Memang masih terlampau mahal untuk satu buah laptop. Tapi perlu kita ketahui bersama ya, sejak januari hingga April 2021, dunia sedang mengalami kelangkaan chipset dan prosesor sehingga harga laptop dan gadget di seluruh dunia sedang mengalami kenaikan.

Dilansir dari Gizmochina, kelangkaan chipset dan prosesor akan berlanjut hingga tahun 2022 mendatang. Bahkan sekarang, budget Rp 7 juta hanya bisa mendapatkan intel Pentium dan Celeron. Yah, kalo banter-banter kita bisa dapat Core i3 doang. Terus harganya setara gak sih dengan spesifikasi yang didapatkan?

Baca Juga:  Redmibook 15 resmi dirilis, Laptop Murah Dengan Performa Berkualitas

Spesifikasi

Perhatikan baik-baik spesifikasi dibawah ini!

Tipe prosesor core: 2, frekuensi: >1,1 GHz, Cache: 1 M

Memori standar terpasang: 4 GB DDR4

Hard drive: 32 GB

USB port: dilengkapi dengan USB 3.0

Networking: WLAN adapter (IEE 802.11ac/b/g/n)

Tipe grafis: High Definition (HD) integrated

Audio: integrated

Monitor: 11 inch LED

Daya/power: maksimum 50 watt

Operating system: chrome OS

Device management: ready to activated chrome education upgrade (harus diaktivasi setelah penyedia ditetapkan sebagai pemenang)

Masa garansi: 1 tahun

Ini adalah minimum spesifikasi laptop merah putih yang ditulis dalam Permendikbud no 25 tahun 2021. Perhatikan baik-baik, ini bukan lah spesifikasi laptop seperti kita melihat review produk biasanya. Ini adalah spek minimum (sekali lagi ya minimum) jika suatu sekolah ingin meminta pengadaan laptop.

Jadi suatu sekolah mengajukan pengadaan laptop pada e-katalog, spek yang mereka ajukan boleh lebih tinggi daripada yang tertulis di Permendikbud. Nanti pemerintah akan membelikan spek yang minimal segitu, tetapi ada kemungkinan spek nya lebih baik. Jadi kalo tadi secara perhitungan 1 laptop anggarannya sekitar Rp 8 juta, bisa dapat yang lebih baik tentu nya dari yang tertulis di atas.

Laptop Merah Putih

Ini juga perlu kita klarifikasi, Laptop Merah Putih adalah nama program dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud ristek untuk meluncurkan laptop yang pure 100% dikembangkan di dalam negeri, produsennya merupakan konsorsium yang ditunjuk pemerintah.

Jadi bukan nama laptop yang akan dibeli ini yang namanya merah putih. Program Laptop Merah Putih bertujuang untuk mendigitalisasi dunia pendidikan terkhusus tingkat dasar dan daerah yang sulit terjangkau, sehingga pendidikan di Indonesia merata. Tentunya perlu waktu yang panjang menunggu Laptop Merah Putih ini terwujud.

Sembari menunggu Laptop Merah Putih diujicoba hingga dirilis, pemerintah pun membeli laptop buatan perusahaan dalam negeri untuk mengawali program digitalisasi pendidikan di Indonesia. Jadi tidak ada kaitannya laptop merah putih dan laptop yang dibeli di tahun ini.

Baca Juga:  Komersialisasi Pendidikan dan Kini Bentuknya

Pemerintah akan memberikan laptop dan perangkat pendukung nya ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Proses pemberian ini nantinya tetap mengikuti proses Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) yang telah ditentukan prosedurnya oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan/Jasa Pemerintah (LKPP). Sekolah-sekolah nantinya akan mengajukan pengadaan barang melalui e-katalog mereka.

Dimana produk yang mereka minta sesuai standar yang telah ditetapkan oleh Permendikbud no 25 tahun 2021. Salah satu syaratnya adalah TKDN nya minimal 25%. Karena komponen dalam negeri yang minimal harus 25% ini, laptop yang dibeli nanti berasal dari perusahaan dalam negeri seperti Zyrex, Axioo, dan Advan.

Dilansir dari Tempo, saat ini pemerintah sudah menandatangani kontrak pengadaan dengan SPC, Acer, Evercross, Zyrex, Advan dan Axioo. Patut ditunggu nih gimana kelanjutannya.

Buy The Function

Kalo kalian perhatikan lagi spesifikasi di atas, coba cermati lagi bagian OS nya. OS nya menggunakan Chrome OS. Nah, apa itu Chrome OS? Chrome OS merupakan sistem operasi keluaran google. OS ini langsung terintegrasi dengan Google Chrome.

Jadi kalau kita pengguna windows menyalakan laptop, yang pertama kita lihat adalah halaman desktop, di Chrome OS kita langsung dihadapkan dengan halaman browser Google Chrome. Tampilannya pun hampir sama dengan tampilan android.

Sudah mulai kebayang kalo kita menyalakann laptop yang terlihat langsung Google Chrome?

Fitur yang kita dapat pun terbatas, hanya seputar fitur yang disediakan google. Misal untuk aplikasi office nya yang biasanya kita pakai di laptop biasa adalah MS Office untuk Windows atau Libre Office untuk linux.

Maka di OS Chrome kita akan menggunakan google doc yang biasa nya ada di GDrive. Karena tidak ada halaman desktop atau fitur lain, jadi di OS Chrome tidak memungkinkan menginstall game.

Kalau pun mau main game, paling ya available main game google seperti dinosaurus lompat dan pulau juara. Ini juga berlaku untuk aplikasi di luar Google seperti aplikasi adobe family, davinci, corel draw tidak bisa digunakan di laptop ini.

Baca Juga:  Serdadu Kumbang: Potret, Paradoks dan PR Pendidikan Indonesia

Jadi apa yang kita dapat dengan OS Chrome? Fitur Browsing, Gmeet, Classroom, siaran live meeting, office by the google, pdf app reader, dan beberapa aplikasi pendukung lainnya.

Segitu doang?

Bagi kita mungkin ini kecil, tapi ini adalah pilihan tepat, kenapa?

Dilansir dari The IndianExrpess, Laptop OS Chrome sangat laris ketika pandemi, penjualannya meningkat hampir 3 kali lipat.

Ini terjadi karena OS Chrome sangat cocok untuk pendidikan sekarang yang serba online. Kita langsung terhubung dengan browser sehingga fleksibel dalam mencari materi pembelajaran.

Laptop ini juga tidak dilengkapi fitur penunjang video game, jadi membuat orang tua tidak perlu khawatir akan penyalahgunaan barang ataupun anjloknya nilai anaknya karena gaming.

Jadi fungsi dan kegunaannya memang tepat untuk pendidikan ya, siswa siswa di Indonesia nantinya gak bakal menyalahgunakan laptop ini buat keperluan di luar pendidikan. Keputusan tepat Kemendikbud ristek, pembelian yang tepat sasaran dan Buy The Function. Hayoo, ngaku siapa yang dulu praktikum di lab multimedia bukannya latihan TIK malah buka game yang tidak-tidak!

Kesimpulan

Kalau berdasarkan penjelasan tadi, pembelian Kemendikbud ristek udah sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Teknologi laptop ini juga lagi nge-trend di dunia, jadi cocok untuk program pemerintah yaitu mendigitalisasi pendidikan di Indonesia.

Karena OS Chrome ini fitur nya lumayan sederhana, jadinya spesifikasi rendah di Permendikbud no 25 tahun 2021 sudah cukup, kalo pun dapat yang lebih tinggi gak ngaruh-ngaruh amat.

Kendalanya mungkin lebih ke akses internet, karena fitur dari google ini semuanya serba digital, serba terkoneksi ke internet, jadi untuk wilayah Indonesia yang tidak terjangkau internet dengan baik, sepertinya menjadi masalah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan