Sepotong Memori Soal Skripsi

  • Bagikan
Sepotong Memori Soal Skripsi

NONGKI.NET – Sepotong memori soal skripsi ditulis untuk mencurahkan isi pikiran dan juga sebagai kepentingan tugas Bahasa Indonesia.

Ketika tulisan ini dibuat, saya menginjak usia 23 tahun. Di usia ini saya telah memasuki perkuliahan pada semester 10. Orang yang mendengarnya, sepengalaman saya, akan langsung bereaksi: kapan selesai skripsinya?

Kata skripsi saya kenal pada umur 15. Sebuah toko percetakan di salah satu sudut kota tempat saya tinggal memajang sebuah kaos pada kaca toko. Dengan kombinasi warna hitam pada lengan dan putih pada dada hingga perut. Di bagian data tertulis kalimat dengan warna kuning berbunyi: “lulus pada waktunya”.

Tiap kali orang bertanya kapan saya lulus, atau dalam hal ini artinya adalah proses mengerjakan skripsi telah usai, ingin saya mengajaknya ke sebuah toko di salah satu sudut kota yang dulu saya tinggali untuk melihat kaos yang terpampang pada kaca.

Di salah satu puisi populer negeri ini saya memahami kalau yang fana adalah waktu, kita abadi. Apakah skripsi saya akan selesai karena waktu adalah suatu kefanaan? Atau skripsi saya tidak akan selesai karena karena ia ikut saya yang abadi? Nampaknya jawaban dari dua kalimat tanya sebelumnya adalah saya terlalu bodoh untuk mengaitkan antara proses pengerjaan skripsi dengan puisi salah satu guru besar UI. Puisi yang tepat adalah puisi dari salah seorang pujangga yang khas dengan potretnya sedang menghisap rokok: Mampus kau dikoyak-koyak skripsi!

Banyak sekali hal yang mengoyak-ngoyak saya selama hidup. Selain nasib dan pemerintah yang makin oligarkis, proses pengerjaan skripsi kadang-kadang membuat saya untuk selalu meromantisasi masa pendidikan SD-SMP-SMA. Saya kembali bertanya pada diri saya sendiri, apa yang hilang dari semangat dalam menuntaskan jenjang pendidikan?

Baca Juga:  Honey Land dan Perjalananku ke Madura

Meminjam lirik lagu Silampukau berjudul “Bola Raya”: kami main bola di jalan raya, beralas aspal bergawang sandal. Itulah peristiwa yang selalu saya alami sepulang dari SD. Tiap hari rasanya terlalu berharga untuk saya lewatkan tanpa pergi ke sekolah. Tentunya hal tersebut adalah dalih untuk selalu bisa mengolok-olok teman yang gawangnya kebobolan. Namun saya merasa hidup. Jiwa saya seperti bernafas tiap kali memikirkan selebrasi siapa lagi yang harus saya tiru ketika mencetak angkat saat bermain bola. Gaya Thiery Henry, Didier Drogba, atau Ronaldinho? Kira-kira itulah pekerjaan rumah yang saya lakukan. Tapi, sekali lagi, saya tetap bersemangat untuk ke sekolah. Bukankah secara tidak langsung saya akhirnya akan menamatkan sekolah dengan rutin hadir.

Mungkin itu salah satu dari sekian banyaknya memori yang selalu membuat saya senang dengan hal-hal yang terafiliasi dengan institusi pendidikan. Tapi, lagi-lagi saya coba mencari korelasi dengan proses pengerjaan skripsi saat ini. Apa missing link yang mampu saya gali dari peristiwa ini?

Dari penelitian yang dilakukan oleh Siska Adelina dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang, saya hanya ingin mengambil 3 faktor saja. Atau, missing link yang sebelumnya saya pertanyakan.

Kondsi pribadi dikatakan sebagai salah satu hal yang mempengaruhi cara kita belajar. Dan faktor ini adalah faktor yang paling mendominasi untuk ikut campur dalam proses pengerjaan skripsi. Berangkat dari pernyataan ini saya mencoba mehami apa yang hilang pada diri saya. Jawabannya saya temukan pada penelitian yang dilakukan oleh Moh. Chairil Asmawan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Motivasi adalah entitas yang dimiliki seseorang untuk memberikan dorongan atau kemauan melakukan tindakan. Mungkin, hal yang saya tak punya adalah keinginan untuk menyelesaikan kuliah sesegera mungkin. Motivasi untuk segera menyelesaikan kuliah tentu akan memacu saya untuk mematuhi syarat lulusnya seorang mahasiswa yakni menyelesaikan skripsi.  Dan setelah skripsi selesai, saya kira inilah impian banyaknya mahasiswa: bekerja untuk menghasilkan uang.

Baca Juga:  Demo Berujung Darah Mahasiswa Dalam Aksi Save KPK

Sekolah SD-SMP-SMA. Kuliah. Bekerja. Menikah. Punya Rumah. Dan lain-lain… saya kira runtutan itu berhak disebut sebagai American Dream versi Indonesia.

James Truslow Adam, penulis buku Epic of America, pada tahun 1931 menuliskan dalam bukunya bahwa American Dream mengharapkan kehidupan yang lebih baik, lebih kaya, dan lebih berisi bagi semua orang dan mereka mendapatkan kesempatan berdasarkan kemampuan atau pencapaian mereka dalam hidup” tanpa mempedulikan kelas sosial atau di lingkungan mana ia dilahirkan.

Idiom American Dream berasal dari sebuah buku berjudul Epic of America. Penulis bukunya Bernama James Truslow Adam. Buku yang ditulis pada tahun 1931 ini memiliki angan-angan untuk manusia-manusia amerika memiliki kehidupan dengan taraf hidup yang laik. Setiap orang berhak memiliki berbagai pencapaian atas kemampuan-kemampuan yang mereka miliki tanpa harus memusingkan status sosial atau tempat mereka berada. Atau secara singkat, tanpa memusingkan berbagai macam latar belakang yang pada saat itu banyak sekali warga diaspora di Amerika Serikat.

Kira-kiranya, American Dream adalah keinginan setiap individu untuk memiliki hidup yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Kita sebagai individu memiliki kemerdekaan mutlak untuk mendefinisikan bagaimana hidup yang kita miliki.

Saya kira American Dream versi Indonesia secara implikatif bisa saya definisikan seperti sebelumnya. Dengan mengesampingkan berbagai persoalan ekonomi-politik yang sistematis, bocah kecil dalam jiwa saya pun ingin senaif itu: selesai sekolah formal, bekerja, menikah, punya rumah, beranak pinak, naik haji.

Tapi saat ini, skripsi adalah satu satu milestone dalam rangkaian American Dream ala Indonesia. Bisa saja jika skripsi tidak selesai, lantas mimpi Indonesia ala remaja lugu macam saya ini musnah.

Persoalan skripsi tidak melulu soal individu. Saya pun malas kalau selalu membahas diri saya sendiri. Saya belajar dari pemanggungan teater bahwa kita semua punya peran yang sama dalam rangka mempertunjukan suatu lakon. Peran lain yang musti saya perhatikan adalah peran yang lebih objektif untuk dikaji: Struktural. Saya kira, intansi kampus juga ikut andil dalam proses penyelesaian skripsi. Kebetulan saat ini saya memiliki dosen pembimbing yang sangat suportif. Hal ini sering saya bagikan dengan teman-teman saya. Beberapa diantaranya mengeluhkan tidak memilki seperti yang saya alami perihal dosen pembimbing. Saya pikir jika berkaca pada cerita teman-teman, doseng pembimbing harusnya mempermudah proses pengerjaan. Tetapi realita yang sering kali ditemukan justru kontradiktif. Persoalannya cenderung klise: susah ditemui, kurang komunikatif, tidak lugas dalam mengoreksi.

Baca Juga:  Ngajak Diskusi Malah dianggap Modus, Parah Banget kan?

Akan lebih baiknya saya kira, tentu untu saya pribadi dan umumnya untuk teman-teman, sedikit meniru Romeo dan Juliet ketika mengerjakan skripsi: begitu mesra dalam menjalin mahligai komitmen sekalipun pada akhirnya akan berpisah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan