Serdadu Kumbang: Potret, Paradoks dan PR Pendidikan Indonesia

  • Bagikan
serdadu kumbang

Serdadu Kumbang merupakan karya kelima Alinea Pictures, sejak film perdana mereka Denias, Senandung di Atas Awan  (2008). Film yang dikomandani Ari Sihasale sekaligus pendiri Alinea Pictures memilih lokasi sebuah desa kecil di Sumbawa, tepatnya desa Mantar. Film ini memotret kehidupan masyarakat Sumbawa pedalaman, mulai dari dekatnya hubungan antar warga, masyarakat kurang peduli pendidikan, banyak masyarakat yang buta huruf, mitos yang mengakar, panorama alam yang indah, hingga kebiasaan-kebiasaan masyarakat desa yang menarik. Hal-hal tersebut memang menjadi kelebihan tempat-tempat terpencil yang hakikatnya telah menjadi modal cukup untuk dikelola sebagai karya.

Dengan lokasi Sumbawa pedalaman, Serdadu Kumbang memilih mengangkat kisah tentang pendidikan, keluarga dan cita-cita yang berangkat dari anak laki-laki kelas enam SD berbibir sumbing bernama Amek yang memiliki hobi menonton televisi, dari hobi yang dimilikinya sebagian warga yang bertemu akan bertanya “apa kabar negeri kita?”.  Kalimat tersebut tidak sering muncul dalam film ini, tapi kalimat tersebut berbau satir atas jauhnya relasi antara pemerintah dan masyarkat pedalaman, dan menjadi representasi ketimpangan informasi.

Amek sebagai tokoh utama yang memiliki karakter introvert, keras hati dan cenderung jahil tapi ia adalah anak baik, akan membawa kita kedalam kehidupan masyarakat desa Mantar. Di tempat terpencil, untuk menjadi kaya masyarakat berasumsi harus merantau ke luar negeri seperti yang dilakukan ayah Amek, tiga tahun tak ada kabar dan tak mengirim uang. Sebagai masyarkat pedalaman yang mayoritas bekerja sebagai petani, bagi orang tua membantu panen lebih penting daripada harus sekolah tapi gagal lulus UN tetap menjadi kekhawatiran bagi mereka, hingga rela mengorbankan 1 kambing untuk dukun supaya anak mendapat kelulusan.

Film ini memang memiliki banyak sekali cerita, hingga sinopsisnya bisa menjadi beragam versi. Tapi film ini lebih banyak menyoroti relasi antara keluarga dan pendidikan. Dengan banyak plot atau karakter cerita film akan lebih menarik sebab penonton akan menjadi penasaran dengan akhir permasalahan masing-masing karakter, tapi konsep seperti ini akan mengaburkan fokus apa yang ingin dicapai protagonis seperti yang terjadi di film ini hingga kemudian muncul keajaiban tanpa ada penjelasan. Sebagaimana yang terjadi pada Amek yang tiba-tiba dioperasi pasca meninggalnya kakaknya “Minung” sedangkan kesumbingan Amek tak pernah menjadi masalah dalam film, memang tertutupnya sifat Amek mungkin menjadi alasan anak introvert tapi penonton akan dikagetkan dibagian akhir bahwa hal itu adalah masalah.

Banyak kisah kejanggalan dalam Serdadu Kumbang yang akan kita dapat jika kita senang mencari kejanggalan film dan keindahan permasalahan film yang tidak fokus ke tokoh Amek tetap akan menyisakan pertanyaan dibenak penonton seperti “Ooo cita-cita Amek ini toh, saya kira jadi Joki kuda yang handal, abis dia sedih banget saat kudanya dijadikan jaminan utang bapaknya yang menipu”. Apalagi anda mencari relevansi tema dan cerita,  “Serdadu Kumbang, dari mananya ya?”.

Baca Juga:  Once Upon A Time In Hollywood: Masuk Kuping Kiri Cliff Booth, Keluar Kuping Kanan Quentin Tarantino

Paradoks Hukuman Dalam Pendidikan

Hukuman merupakan bentuk ketegasan dalam pendidikan, banyak orang akan setuju dengan pernyataan ini, tapi bagaimana jika kata “ketegasan” diganti dengan kata “kekerasan”?, justru banyak orang tidak setuju. Secara harfiah kedua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Kekerasan lebih cenderung kepada tindakan yang bersifat menyakiti dan bertujuan menganiaya sedangkan ketegasan lebih bersifat kepada hukuman yang diambil sebagai akibat dari pelanggaran terhadap aturan-aturan yang berlaku dan bertujuan untuk mendidik secara moral dan perilaku.

Serdadu Kumbang mempertanyakan perihal kekerasan dalam pendidikan kita, saat banyak siswa yang telat diberi hukuman ala militer oleh pak Alim (Lukman Sardi) yang terkenal keras, di ruang kelas bu Imbok (Ririn Ekawati) sedang menanyakan siswi bernama Imah tentang apa yang ia pahami dari Pancasila sebagai falsafah bangsa. Hukuman ala militer seakan-akan memotret kebijakan tersebut disebabkan kurangnya guru memahami falsafah bangsa, yakni sebagaimana Imah jelaskan “semua warga negara sama kedudukannya dimata hukum, Pancasila sebagai falsafah bangsa tidak menyetujui kekerasan dalam bentuk apapun.”

Kita tahu hukuman dibuat supaya yang dianggap “nakal” menjadi disiplin. Tapi, menghukum secara fisik dapat berdampak buruk bagi perkembangan mereka. Selain itu tindakan kekerasan tersebut juga tidak akan menghentikan perilakunya bahkan dapat menyebabkan siswa pobia berangkat sekolah bahkan bisa juga guru dimusuhi dan diajak bertarung muridnya, biasanya respon ekstrim seperti ini terjadi di jenjang SMP dan SMA. Tindakan tersebut dirasakan oleh Amek dan dua sahabatnya saat ditanyakan Imbok karena mereka tidak sekolah, “saya mau sekolah buk, tapi selalu dihukum,” tutur Amek dengan ekspresi murung.

Retno Listyarti KPAI Bidang Pendidikan menekankan bahwa dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa anak-anak yang diasuh, dididik, dan didisiplinkan dengan kekerasan akan dapat mendatangkan berbagai dampak negatif bagi perkembangan murid secara psikologis dan secara fisik.

Apabila kekerasan digunakan dengan dalih untuk mendidik karakter, tanpa kita sadari tindakan tersebut malah akan menjadi corong kriminalitas, artinya tindakan kekerasan bisa saja dijadikan inisiasi pertama dalam menghadapi masalah. Alber Bandura telah jauh-jauh hari menerbitkan riset terkait kemampuan anak melakukan kekerasan, ia mengutarakan bahwa hal itu terjadi karena proses modelling atau mimicry, yakni anak-anak melakukannya berdasarkan yang mereka lihat  atau alami, menirunya dan ketika kesempatan terbukan berpotensi melakukan pengembangan atau modifikasi. Singkatnya, orang tua atau guru yang melakukan kekerasan, seperti tindakan pendisiplinan, pada dasarnya sedang mengajarkan kekerasan dan kebencian. Seperti yang Papin ucapakan pada Kepala Sekolah dan pak guru Openg “kalau cucu saya (Umbe) kurang ajar saya minta maaf, itu mungkin karena keturunannya memang kurang ajar, tapi mungkin juga karena guru yang mengajarnya, mengajarkan kurang ajar”.

Baca Juga:  Review Film Korea Psikologi: The Client (2011)

Mengenai pendisiplinan ada hal menarik dalam film ini, yakni perbedaan cara pendisipinan antara pak Alim dan Imbok. Pak Alim yang terkenal dengan karakter punya logika “yang salah harus dihukum” atas nama pendisiplinan, berbeda dengan Imbok yang anti kekerasan dan lebih memilih tindakan persuasif, saking idealisnya Imbok lebih memilih keluar sekolah karena Kepala Sekolah lebih setuju metode Alim dan kemudian Imbok terjun ke masyarakat mengajar orang-orang yang buta huruf dari berbagai kalangan umur, mulai dari pemuda hingga lansia. Sayangnya, karakter keras Alim hanya ditampilkan di sekolah sehingga penonton tidak mendapat gambaran mengapa guru bertindak keras, hal ini menjadi titik kabur dari film ini yang dari awal menyinggung kekerasan dalam pendidikan.

Mengenai paradoksal hukuman, saya teringat pertanyaan teman saya tiga tahunan yang lalu “kenapa santri yang nakal (kelewat batas) harus diboyong?, bukannya orang ditaruh di pesantren supaya nakalnya berkurang. Dari pernyataan tersebut saya timbul pertanyaan, apakah ada yang salah dalam sistem kebijakan pendidikan kita atau SDM guru kita yang kurang berkompeten?

PR Pendidikan Kita

ada pertanyaan yang dilontarkan Papin dalam film ini “Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan?”.

Yang saya pahami, ada tiga konsep pendidikan: Naturalisme (Pendidikan yang menekankan hubungan manusia dengan lingkungannya, contoh alam, kebudayaan dll.), Empirisme (pendidikan yang menekan manusia pada pengalaman, contoh riset , dan Konvegerensi (pendidikan yang mempertemukan dua konsep sebelumnya).

Yang kita rasakan selama ini, belum ada dari ketiga konsep yang kita emban. Kebanyakan dari kita akan mengatakan “saya tak dapat apa-apa”, ada juga “saya belajar hal yang kurang hubungannya dengan kehidupan”, bahkan ada pula “saya menyesal sekolah”. Jika arah pendidikan kita jelas, saya rasa tidak akan ada perdebatan pendidikan karakater atau pertanyaan “haruskah pelajaran budi pekerti” kembali dimasukan ke sekolah. Hal ini pernah saya lihat di salah satu sekolah alternatif di Jogja, tepatnya Salam (sanggar Anak Alam). Dari pengamatan saya, Salam menganut ketiga konsep pendidikan diatas, sebab, seperti yang disampaikan pendirinya Sri Wahya Ningsih, di Salam anak-anak harus melakukan riset sesuai dengan apa yang mereka suka dan harus sebisa mungkin meeksplorasi kekayaan alam supaya saat besar tidak merantau.

Baca Juga:  Tokoh Film Indonesia Sikapi Televisi Memeriahkan Kebebasan Saiful Jamil

Kurikulum kita sudah berganti sebanyak 11 kali sejak merdeka. tindakan tersebut hampir terjadi di setiap pergantian menteri pendidikan. Hal ini, memperlihatkan ketidakjelasan arah pendidikan kita. K-13  memang mengganti metode penilaian murid, yang mulanya menggunakan angka dan sekarang menggunakan huruf, tapi hal itu, tidak berdampak banyak pada pembinaan karakter siswa. Kasus pembulyyan masih meraja rela. Hal ini juga dirasakan Umbe di sekolah, sebagai murid kidal. Tapi sayang kasus pembulyyan tidak kemas dengan baik dalam Serdadu Kumbang, kita tidak akan pernah melihat Amek yag sumbing dibully,Umbe yang kidal bahkan teman Amek yang albino.

Bagi saya langkah  sangat kentara dari K-13 adalah berhasil menghilangkan jual beli kunci jawaban yang tak juga lepas dari penipuan, sekolah memilki hak meluluskan siswanya dan yang terbaik menghapus tangisan kesedihan wali murid dan murid bagi yang tidak lulus, yang biasanya menyebabkan frustasi lalu bunuh diri.

Film yang diproduksi pada tahun 2011 ini, berhasil memvisualisasikan emosi orang tua dusun Mankar saat semua anak-anak SMP Mankar tidak ada yang lulus termasuk Minung (kakak Amek) yang memiliki banyak prestasi bahkan pernah menjuarai olimpiade Matematika. Emosi orang tua sangat berkesan dalam Serdadu Kumbang, mulai dari saat pra Unas hingga Pasca Unas. Sebelum Unas banyak dari orang tua pergi ke dukun bahkan menukar satu ekor kambing lalu rela tengah malam pergi ke sekolah untuk menabur barang yang diberi dukun.

Dan ada satu kalimat menarik yang dilontarkan Zakariya (ayah Amek dan Minung) di tengah kemarahannya saat mendengar anaknya tidak lulus “pendidikan macam apa yang menghukum murid-murid seperti ini?”. Tidak hanya emosi orang tua, hal yang biasanya terjadi pada murid yang gagal lulus juga menyentuh penonton, yakni kematian. Minung meninggal karena kecelakaan jatuh dari pohon yang dianggap keramat, yang di batang pohon banyak botol berisi harapan. Memang di era itu, pendidikan terkesan kejam.

Banyak masalah pendidikan yang ditampilkan dalam Serdadu Kumbang tapi solusi yang ditawarkan sangatlah minim, kita hanya akan lebih melihat komentar. Memang kritik boleh lebih banyak daripada saran, tapi apa guna jika hal itu malah membuat fragmen-fragmen cerita lepas yang akan terkesan memaksa.

Serdadu Kumbang | 2011 | Sutradara: Ari Sihasasale | Penulis: | Produksi: Alinea Pictures | Negara Indonesia | Pemain: Yudi Miftahuddin, Aji Santosa, Fachri Azhari, Monica Sayangbati, Titi Sjuman, Alex Komang, Ririn Ekawati, Lukman Sardi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan