Bisakah Timnas Indonesia mencapai Piala Dunia?

  • Bagikan
Bisakah Indonesia mencapai Piala Dunia?

NONGKI.NET – Bisakah Timnas Indonesia mencapai Piala Dunia? Jawabannya ada pada lirik lagu Dewi Perssik “Mimpimu, mimpi-mimpi manis”. Lanjutkan mimpimu manusia Indonesia.

Beberapa waktu lalu kita mengetahui bahwa Timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 bahkan harus puas sebagai juru kunci. Timnas kita juga harus ikut play-off untuk mengikuti kualifikasi Piala Asia 2023. Tentu ini sangat mengecewakan bagi pecinta sepakbola tanah air. Sebagian pecinta sepakbola tanah air masih ada yang berharap dan percaya Indonesia akan mencapai Piala Dunia 20a26.

Saya yang termasuk kecewa, mengapa? Karena sejak 2016, kita mempunyai kompetisi yang berjalan sehat dan kompetitif. Kita seharusnya bisa mengalahkan Malaysia yang kompetisinya hanya dikuasai 1 tim saja. Waktu 5 tahun juga sebenarnya juga lebih dari cukup untuk membentuk tim yang kompak.
Di tengah kekecewaan, saya akan mencoba membahas faktor yang mungkin dapat menjawab Bisakah Indonesia mencapai Piala Dunia?

1. Berawal dari Kompetisi

Timnas berasal dari sebuah Piramida yang mengerucut dari atas. Berawal dari pembinaan pemain usia dini yang sangat banyak. Kemudian beranjak ke kompetisi usia muda sampai kompetisi kasta rendah (liga 3 – liga 2) hingga akhirnya kompetisi teratas (liga 1). Puncak dari Piramida itu ialah sebuah Timnas yang berisi pemain-pemain terbaik negeri ini.

Kompetisi negeri ini sangat kompetitif dan sehat. Saya yakin kita bisa menghasilkan pemain-pemain berkualitas, hanya saja kompetisi kita sering dirusak-rusak oleh hal-hal dari luar olahraga. Kompetisi kita dari dulu sering dirusak oleh hal-hal yang diluar olahraga. Mafia Judi dan pengaturan skor di era galatama dan perserikatan. Tahun 1998 tidak ada kompetisi karena kondisi politik. 2011-2013 ada dualisme liga dan federasi. 2015 konflik dengan pemerintah berujung pada banned dari FIFA. Kasus pengaturan skor yang melibatkan PLT Ketua Umum PSSI bapak Joko Driyono pada tahun 2019. Hal diluar sepakbola yang mengganggu kompetisi kita ialah tidak ada izin dari pemerintah untuk kompetisi 2020 padahal pemilu dilancarkan.

Ini tentunya berdampak pada finansial klub. Klub menjadi kesulitan mencari pendanaan untuk membangun fasilitas olahraga. Dampaknya, klub menumpang pada fasilitas yang dibangun pemerintah dan swasta. Ini menyulitkan klub dan pemain mengembangkan tim karena opsi latihan yang terbatas.

Baca Juga:  Surat Terbuka Untuk Pemerintah, Presiden Sampai Lurah

2. Belajar dari Negara lain

Turki yang langganan Piala Eropa, punya kompetisi yang sehat, pemainnya main di seantero Eropa sudah 16 tahun tidak pentas di Piala Dunia. Belanda, Italia, Chili yang juga merupakan negara besar di Sepakbola gagal tampil di Piala Dunia 2018 Rusia. Jika negara yang serius ngurus federasi dan sepakbolanya saja bisa gagal, apalagi PSSI yang kurang serius.

Apakah yang harus dilakukan oleh PSSI? PSSI hanya perlu serius dan cepat tanggap dalam mengurus setiap permasalahan sepakbola. Misal VAR yang telah digunakan Bandung Premier League sejak 2nol18, bahkan telah direkomendasikan mantan Menpora Imam Nahrowi. Pada kompetisi 2020 PSSI baru mencanangkan penggunaan VAR pada 2021, dan batal karena Covid-19.

Kasus naturalisasi Sandy Walsh yang sangat ingin membela Timnas Indonesia, disampaikan oleh Gatot S Dewabroto selaku Sesmenpora bahwa tidak ada usulan naturalisasi dari PSSI. Ini hanya sedikit dari sekian banyak masalah yang seharusnya ditanggapi dan diselesaikan oleh PSSI dengan cepat.

3. Mulai dari minus 2

Jika pelatih negara lain membentuk kerangka tim dari nol, maka pelatih Timnas kita membentuk kerangka tim kita dari minus 2. Sejak era Luis Milla, pelatih sekaliber pemenang piala Eropa U-21 tidak diberikan materi pemain yang berkualitas. Luis Milla hanya diberikan pemain yang dikembangkan di kompetisi dalam negeri. Ada Evan Dimas berkarir di Malaysia, langsung disemprot oleh pihak federasi. Tidak ada pemain yang berkarir di sebuah liga yang High Quality.

Alhasil waktu yang cukup panjang tersita bagi seorang Luis Milla untuk meningkatkan kualitas individu pemain. Berbeda saat Luis Milla melatih Spanyol U-21, materi pemainnya berlabel pemain La Liga dan Segunda Division, bahkan ada beberapa yang main di Barcelona. Teknik mereka matang karena dibina sejak akademi, pengalaman pun juga ditempa dalam kompetisi usia muda hingga senior. Luis Milla hanya perlu meninjau skill individu , memilih pemain sesuai kebutuhan tim, dan menyempurnakan taktik. Jelas di Spanyol dia membentuk tim dari nol, sedangkan di sini dia membentuk dari minus 2.

Baca Juga:  Spesifikasi Advan GX, HP Lokal Rasa Internasional

Senasib dengan Luis Milla, Shin Tae-Young pelatih Timnas Indonesia saat ini juga membentuk kerangka Tim dari minus 2. Ketika ia datang ke Indonesia, ia bahkan mengatakan pemain Timnas Senior kita tidak tau dasar passing sepakbola. Fisik pemain Indonesia juga sangat kendor, kelakuan tidak disiplin, makan tidak teratur dan masih banyak lagi masalah lainnya.

Pelatih sekelas Shin Tae-Young harus mengajarkan makan teratur kepada pemain Timnas (ditekankan lagi ya Pemain Timnas). Hal-hal mendasar itu seharusnya diajarkan sedari klub, bukan saat sudah di Tim Nasional. Menyadari ketertinggalan Timnas ini, Shin Tae-Young pun menyarankan kepada pemain-pemain Indonesia untuk berkarir keluar negeri, ke kompetisi yang kualitasnya jauh lebih baik.

4. Perbaiki Siaran

Jangan meremehkan aspek media dan siaran. Ini termasuk aspek penting yang kadang dikesampingkan oleh stakeholder sepakbola Indonesia. Padahal salah satu sumber pemasukan kompetisi dan pesertanya berasal dari media.

Stakeholder sepakbola Indonesia masih terlalu angkuh dalam membenahi kompetisi. Ketika dulu disarankan untuk menerapkan kuota pemain asing ASEAN, mereka menolak dengan alasan liga yang menerapkan kebijakan itu hanya ingin menarik penonton negara lain dan perluasan pasar. Meski benar adanya dan meski liga kita mempunyai pasar yang besar dalam bisnis kita perlu memperluas jangkauan pasar kita.

Agar apa? Agar banyak negara yang menyiarkan Liga Indonesia. Selama ini penonton liga kita mayoritas dari dalam negeri, sehingga sponsor klub, sponsor liga, dan hak siar hanya sebatas dari dalam negeri saja. Ini akhirnya membuat harga liga kita mahal, karena pembeli nya hanya dalam negeri saja. Bayangkan jika yang membeli hak siar kita ada 1nol media dari 1nol negara ASEAN, pendapat kita akan semakin besar dan harga jualnya pun lebih murah.

Masih teringat pak Helmi Yahya mantan dirut TVRI yang menjelaskan alasan kenapa TVRI tidak membeli hak siar Liga Indonesia, karena harga nya 4 kali lipat harga hak siar Liga Inggris. Akhirnya hanya stasion TV yang itu-itu saja yang membeli hak siar liga kita. Meski siaran nya jelek, tetap saja kita tidak punya pilihan.

Baca Juga:  Baca Ini Sebelum Berkomentar! Penjelasan Nadiem Beli Laptop senilai 2,4 triliun

5. Sistem Kebut Semalam

Sistem yang dijalankan PSSI mirip mahasiswa mengerjakan tugas kuliah nya. Dikerjakan H-1 pengumpulan tugas atau biasa disebut The Power of Kepepet. Ini terlihat dari beberapa agenda PSSI.
Saat Luis Milla menjadi pelatih Timnas Indonesia, ia hanya difokuskan pada Timnas U-23 sedangkan Timnas Senior era Luis Milla jarang melakoni laga uji coba. PSSI beralasan bahwa ini merupakan prioritas menghadapi Asian Games 2018.

Alhasil setelah Asian Games 2018 usai, Timnas Senior tidak mempunyai kerangka dan tidak siap sama sekali. Pelatih sementara Timnas Indonesia pada saat itu, Bima Sakti mengatakan bahwa tim dan strategi yang ia bawa di Piala AFF 2018 merupakan strategi Luis Milla. Kendati memakai strategi Luis Milla, Timnas Indonesia Senior hancur lebur di Piala AFF 2018. Ini hasil dari tidak ada persiapan jangka panjang Timnas Indonesia Senior.

Di era pelatih Shin Tae-Yong pun juga sama. Ketika kita menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021, PSSI menunjuk Shin Tae-Yong menukangi Timnas Indonesa U-19. Berbagai uji coba dan program dilangsungkan oleh PSSI. Namun ketika Piala Dunia U-20 2021 dibatalkan oleh PSSI, semua program untuk Timnas U-19 tidak dilanjutkan. PSSI dalam hal ini hanya mengejar target turnamen yang ada di depan mata, tidak mempertimbangkan jangka panjang.

Timnas Senior di era Shin Tae-Yong juga tidak dipersiapkan dengan matang. Pada jeda internasional November 2020, PSSI tidak mengagendakan uji coba untuk Timnas Senior dengan alasan tidak ada target turnamen yang dikejar dalam waktu dekat dan negara tetangga juga tidak mengagendakan uji coba. PSSI baru menyiapkan Timnas Senior di tahun 2021. Uji coba menghadapi Oman dan Afghanistan tentu sangat kurang untuk menghadapi negara yang pemainnya bermain aktif di kompetisi. Wajar jika kita jadi bulan-bulanan menghadapi Vietnam dan Uni Emirat Arab.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan