Valentino Rossi Ujian SIM di Indonesia: Lulus Gak ya?

  • Bagikan

Permasalahan SIM di Indonesia

Baru-baru ini sistem ujian SIM di Indonesia dikritik karena sulitnya yang gak ngotak. Salah satu pengguna twitter dengan nama aku “Buya Eson” membuat surat terbuka kepada pak Jokowi terkait pelayanan SIM di Samsat dan Satpas.

Sebenarnya ini merupakan keluhan dari masyarakat di Indonesia terhadap pelayanan publik Samsat dan Satpas. Buya Eson hanya mewakili masyarakat saja melalui surat terbuka ini.

“Dengan Hormat, Bapak Presiden, saya adalah warga yang lebih 20 tahun merasa resah dan prihatin dengan pelayanan publik khususnya di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) dan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (SATPAS) yang hingga saat ini belum bebas dari praktik pungutan liar (pungli) dan percaloan,” tulisnya pada paragraf pertama. Surat ini ditujukan kepada bapak Jokowi dengan tembusan Menko Polhukam dan Kapolri.

“Praktik pungli dan percaloan juga terjadi dalam urusan pembuatan dan perpanjangan SIM di SATPAS. Warga juga mengeluhkan ujian teori yang tidak transparan dan ujian praktik perolehan SIM yang dinilai tidak masuk akal. Dengan model ujian praktik seperti ini, publik percaya Lewis Hamilton akan gagal mendapatkan SIM A dan Valentino Rossi juga tidak mungkin memperoleh SIM C di Indonesia,” tulis Eson. Tulisan nya yang menyinggung Valentino Rossi dan Lewis Hamilton membuat masyarakat tertarik dengan isu ini.

Tanggapan Masyarakat

Masyarakat mendukung tulisan Buyan Eson yang mengkritik pemerintah dengan gelak tawa. Tulisan Eson sendiri langsung diangkat oleh Kumparan dengan Judul “Tes SIM di RI Diprotes: Lewis Hamilton & Valentino Rossi Juga Tak Akan Lulus”.

Tulisan kumparan banyak ditanggapi oleh masyarakat. Ada yang menyambut dengan nada sinis kepada pemerintah, ada juga yang menanggapi dengan gelak tawa.

Baca Juga:  Demi Xpander, Mitsubishi Bakal Mengimpor Kembali Pajero Sport

Yang pertama ada akun Saefudin Zuhri. “Kalo ditempat pembuatan SIM polres ujiannya sulit banget dan ujung2nya nembak dan di samsat keliling gak perlu ujian tp biayanya yg mahal banget. Jadi kesimpulannya……Ujung2 nya duit. Dan itu masih menjadi ciri khas polisi di indonesia” ucapnya di kolom komentar. Komentar Zuhri sebagai warga hanya ingin menyampaikan aspirasi.

Selanjutnya ada Amir Hidayat yang menanggapi lucu. “Ah sapa bilang,, tetap lulus,, kalo buat sim itu jangan tanya prosedurnya gimana,, tapi langsung aja tanya buat sim brapa harganya,,” tulis Amir pada kolom komentar.

Ada juga komentar dari Putu Ardana. “Ya krn tes sim C sesuai kontur jalanan di indonesia. Banyak berlubang…”. Pantesan Valentino Rossi gagal, biasa main di jalanan lurus.

Selanjutnya komentar Dynna Nur Rohmah. “Sy dulu ikut tes jalur normal gagal d ujian praktek 5 kali, gilak ujian praktek bikin SIM d Indo udah kyk mau ikutan ninja warrior.. banyak banget rintangannya dan gak mudah… salah dikit aja misal kaki turun langsung gak d luluskan”. Parah mah kalo ini.

Tapi tidak semua gagal lolos, ada juga yang lulus dengan ujian jujur. “Ane ujian SIM lolos juga tuh. Meski kudu ngulang 2 kali. Pertama gagal di manuver zigzag. Disuruh datang 2 minggu lagi. Nah selama 2 minggu itu ane latihan zigzag persis seperti ujian praktek. Walhasil di ujian ulang ane lolos. Ane pakai VESPA Sprint tua, min”. Btw ini komentar dari bapak Trie Haryanto. Mungkin bapak nya bikin SIM di saat sistem pembuatan SIM belum banyak pungli seperti sekarang.

Masih banyak komentar Netizen yang gak bisa disampein satu per satu oleh Nongki.

Ujian SIM di Indonesia
source: Kumparan

Tanggapan Nongki

Ada benarnya apa yang disampaikan oleh Buya Eson tidak ada salah nya. Justru ini sangat membantu masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya. Pungli di Samsat atau Satpas memang banyak. Bahkan calo bertebaran dimana-mana.

Baca Juga:  Video: Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Sekarang coba kita jalan-jalan ke toko buku, perpustakaan, atau kita buka google book dan google library. Kita akan dengan mudah menemukan buku dengan judul “Soal Ujian Tes CPNS” atau “Lulus TNI/Polri” atau “Tips Lulus Perguruan Tinggi”. Tapi kita takkan pernah menemukan buku dengan judul “Lulus Ujian SIM Tanpa Calo”. Kenapa ini terjadi? Karena para penerbit dan penulis tau bahwa hampir mustahil lulus ujian SIM di Indonesia. Jadi nya siapa juga yang mau beli buku itu.

Kalau pengalaman dari tim Nongki sendiri, gak kalah aneh dari cerita teman-teman tadi. Pernah pas ke Samsat di suatu kota (gak boleh disebut nanti kena UU ITE), kita nemuin spanduk bertuliskan “Terima kasih karena tidak menggunakan jasa para calo”. Spanduk itu terletak di tempat parkir, tapi aneh nya justru tempat parkir itu jadi tempat tongkrongan para calo. Para calo itu tidak ditangkap petugas polisi atau pun Samsat. Padahal keberadaan mereka ada di depan mata petugas, mereka menawarkan harga kepada masyarakat.

Yang lebih aneh bin ajaib nya adalah para calo itu setiap hari ngurus SIM/STNK/DLL masuk ke kantor pelayanan. Setiap hari ketemu petugas yang itu-itu aja. Masa sih petugas gak hapal wajah para calo. Kalo dipikir pakai logika mustahil para petugas gak pernah mencurigai mereka adalah para calo. Terus kenapa para calo itu tetap dibiarkan?

Hmm ya udah lah. Sekarang Nongki cuma berharap yang terbaik. Semoga sistem pelayanan publik terkhusus nya untuk Satpas dan Samsat menjadi prima, bersih dari praktik sogok menyogok.

Baca Juga:

https://kumparan.com/kumparanoto/surat-terbuka-untuk-jokowi-valentino-rossi-tak-mungkin-dapat-sim-c-di-indonesia-1wXBoBn2hHQ

https://kumparan.com/viral-sport/tes-sim-di-ri-diprotes-lewis-hamilton-and-valentino-rossi-juga-tak-akan-lulus-1wWiYVUyIUi

https://nongki.net/e-wallet-terpopuler-di-indonesia-cocok-untuk-umkm/

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan