Warung Pak Ali

  • Bagikan
Warung Pak Ali

NONGKI.NET – “Hai Nay,” seseorang memanggilku dengan suara samar. Kemudian aku menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dengan tatapan terkejut, seketika itu pula badanku mematung tak bergerak sedikit pun. Waktu tiba-tiba seperti berhenti, dan membiarkan ia pergi berlari ke arahku. Sedang aku masih saja terdiam.

Sampai pada akhirnya ia berada di depanku,

“Heii, penampilanmu banyak berubah yaa, aku tadinya hampir tidak mengenalimu.”

“Owh iya kah?” jawabku gugup.

“Iya, dulu kamu tomboy banget Nay, sejak kapan kamu berubah menjadi seperti ini?”

Aku hanya tersenyum. Begitulah hari di mana kita bertemu kembali. Kami berbincang lama dan kami saling berbagi pengalaman yang kita lalui selama empat tahun di kampus. Hal ini membuatku teringat pada masa-masa ketika kami pulang sekolah, kami selalu berbincang tentang apapun yang kami alami. Kami berteman sejak dulu masih di bangku SD, kebetulan juga kami adalah tetangga dekat, jadi kami sangat sering bermain bersama.

Penampilannya tidak banyak berubah dari dulu, ia tetap menjadi sosok sederhana. Hal ini juga mengingatkanku padanya ketika dulu pertama kali masuk ke sekolah, ia adalah murid pindahan dari Jakarta. Saat ia harus kehilangan ibu yang sangat ia sayangi, karena suatu penyakit, ia dibawa oleh ayahnya ke kampung neneknya di sini, Bandung. Ia berbeda kelas denganku, sampai pada suatu hari, aku melihatnya sedang dibully oleh teman-temannya, dimintai uang jajan, hingga menjatuhkan buku-buku yang ia bawa menuju kantor. Aku menghampirinya dan membantunya membawakan buku-buku yang tadinya berjatuhan ke kantor.

“Hai, kenalin namaku Nay” sambil mengulurkan tanganku.

“Aku Gilang, makasih ya, sudah membantuku”

Sejak saat itulah kami berteman, berangkat dan pulang sekolah kami selalu bersama, saking dekatnya kami sudah seperti saudara, kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ia suka membaca, membaca buku apa saja, sehingga dalam prinsipnya tiada hari tanpa buku, sampai-sampai ia harus mengenakan kacamata yang amat tebal, karena minusnya selalu nambah, hal ini dikarenakan ia membaca buku terlalu dekat. Selain itu, ia juga merupakan siswa yang rajin dan pintar.

Berbeda halnya denganku, aku tidak terlalu cerdas di dunia akademik. Sehingga sepulang sekolah aku selalu meminta Gilang mengajariku ulang mengenai pelajaran yang didapatkan di sekolah. Kegemaranku adalah dunia music, seperti gitar, piano, dan sejenisnya. Tiap hari aku suka bermain music sambil nyanyi di ruangan kecil. Karena ayahku mengetahui bahwa aku sangat mencintai dunia music, aku dibuatkan studio kecil-kecilan olehnya. Aku senang tidak kepalang mengenai hal ini. Selain itu aku juga diikutkan kursus music oleh orang tuaku. Setiap sabtu sore aku selalu diantar oleh ayahku ke tempat kursusku. Terkadang Gilang juga ikut menemaniku sampai aku selesai latihan. Aku merasa senang karena memiliki teman seperti Gilang yang selalu bisa memahami keadaanku.

Baca Juga:  Acungkan Jari Tengah Pada Pacaran Toxic, Lalu Katakan TIDAK

SMP kami masih satu sekolah. Suatu hari Gilang menemukan pamflet Audisi Gitaris yang digelar oleh Arial Band. Awalnya aku menolaknya, tetapi Gilang terus mendesakku, hingga pada akhirnya aku ikut audisi tersebut. Ia menemaniku mendaftar ke kota, ia juga selalu menemaniku latihan saban hari, sampai pada suatu hari ia sampai tertidur dengan bukunya yang selalu ia pegang. Tepat di hari aku harus tampil, ia juga menemaniku pergi ke tempat audisi. Terlihat jelas ia selalu bersorak dengan semangat menyemangatiku ketika aku melangkahkan kakiku ke atas panggung. Audisi usai, kami tidak langsung pulang, karena para finalis akan diumumkan pada hari itu juga. Nama-nama finalis disebut satu-persatu, tetapi tidak satu pun namaku disebut. Akhirnya kami pulang, meski tidak masuk sekalipun, aku tetap senang, karena setidaknya sudah mencoba.

SMA pun kami masih bersama, kebiasaan kami pun masih sama. Tetapi pertemanan kami semakin luas. Kami juga mengenal orang-orang dengan karakter uniknya masing-masing. Hingga pada akhirnya aku menemukan orang-orang yang hobinya sama denganku. Karena kami selalu berkontak secara langsung saban hari, secara tidak langsung kami menjadi akrab dan mendirikan grup band sendiri. Begitu pun dengan Gilang, ia menemukan orang-orang yang satu frekuensi dengannya. Namun, hal tersebut tidak membuat pertemanan kami terpisah. Saban sabtu kami selalu meluangkan waktu untuk bermain atau makan ke warung. Hal yang demikian berlanjut sampai kami lulus.

Tiga tahun kemudian kami selesai menempuh pembelajaran di SMA, kami akan segera mempersiapkan diri untuk mendaftar ke perguruan tinggi yang kami inginkan. Hingga pada akhirnya aku diterima di jurusan seni musik ITB, dan Gilang keterima di jurusan pendidikan matematika UI Jakarta. Setelah surat kelulusan diterima, aku merasakan keanehan yang aku sendiri tidak paham. Setelah kupikir-pikir, ternyata hal tersebut datang, karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan Gilang. Ia yang selama ini ada untukku, selalu paham dengan keadaanku, dan semuanya ia tahu dengan kelebihan serta kekuranganku. Aku keterima di ITB dan Gilang keterima di UI, membuatku merasa senang dan sedih. Senang karena ITB adalah PTN impianku sejak dulu dan  demikian halnya Gilang, sedangkan sedih, aku sedih karena berarti kami akan berpisah, kalau pun kami bisa bertatap muka, kami hanya akan bertatap muka lewat dunia maya.

Baca Juga:  Bagian Dari Hidup, Ya Begini Saja

Beberapa hari selanjutnya keanehan-keanehan lainnya malah semakin berdatangan dalam pikiranku. Aku selalu kepikiran akan ia, entahlah pikiran-pikiran itu datangnya dari mana. kemudian kucoba untuk memahami pikiranku. Beberapa hari terakhir ini aku selalu tidak suka jika ada cewek lain yang mendekati Gilang, dan yang paling aneh, aku selalu nyaman jika berada di dekatnya. Hingga pada akhirnya aku baru sadar bahwa ternyata aku jatuh cinta. Sebelumnya aku belum pernah jatuh cinta, dan Gilang adalah cinta pertamaku.

Satu bulan kemudian, aku mulai mengenal dunia kampus. Aku juga mulai mengenal orang-orang baru dengan berbagai latar belakangnya. Kami saling berkenalan satu sama lain. Kami pun menjalin pertemanan dengan baik. Di hari-hari berikutnya kami mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan kampus. Namun hal ini tidak membuatku lengah untuk berkirim kabar pada Gilang. Kami masih sama, sama seperti dahulu, tetapi demikian juga, aku semakin merindukannya. Meski sudah berjalan satu, dua bulan bahkan lebih, aku belum pernah menemukan seseorang sepertinya.

Liburan semester awal pun tiba, aku langsung telepon Gilang.

“Gilang, kamu kapan balik Bandung?” tanyaku.

“Heyyy, tidak tahu juga ya Nay, aku belum boleh balik sana sama ayahku, soalnya ayahku sedang sakit, dan aku harus nemenin ayah.”

“Ooo begitu, oke oke, titip salam deh sama om, cepat sembuh gitu.”

“Aamiin.” Jawabnya.

Begitulah di hari-hari selanjutnya, kami selalu berkirim kabar melalui video call, tetapi Gilang tidak akan kembali sampai ia lulus.

Sampai empat tahun kemudian, Gilang meneleponku, aku berharap kabar baik, yaitu ia akan balik ke Bandung, tetapi nyatanya lagi-lagi ia belum bisa, lantaran ia harus menyelesaikan hal-hal yang harus ia selesaikan sebelum boyong. Aku tidak bisa mengelaknya, padahal besok adalah hari wisudaku, aku akan lebih bahagia, jika ia ikut hadir, tapi yasudahlah.

Sampai keesokan harinya, selesai upacara dan prosesi wisuda kami sibuk untuk segera mengabadikan foto bersama keluarga. Tiba-tiba “Hai Nay,” seseorang memanggilku dengan suara samar. Kemudian aku menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dengan tatapan terkejut, seketika itu pula badanku mematung tak bergerak sedikit pun. Waktu tiba-tiba seperti berhenti, dan membiarkan ia pergi berlari ke arahku. Sedang aku masih saja terdiam.

Baca Juga:  Bercinta dalam Do'a: Puisi-puisi Nasir Josadewan

Sampai pada akhirnya ia berada di depanku,

“Heii, penampilanmu banyak berubah yaa, aku tadinya hampir tidak mengenalimu.”

“Owh iya kah?” jawabku gugup.

“Iya, dulu kamu tomboy banget Nay, sejak kapan kamu berubah menjadi seperti ini?”

Aku hanya tersenyum. Begitulah hari di mana kita bertemu kembali. Kami berbincang lama dan kami saling berbagi pengalaman yang kita lalui selama empat tahun di kampus. Saat itu aku merasa terharu akan kehadirannya. Ia sengaja tidak menagabariku, kalau hari ini ia akan datang. Sebenarnya ketika ia meneleponku kemarin, ia sudah berada di bis, dan tidak memberitahuku bahwa ia semalam sudah di rumahnya. Ingin sekali kutampol, tapi sudahlah aku sangat senang dan bahagia.

Malamnya ia kembali meneleponku, katanya ada yang ingin ia bicarakan, kebetulan aku juga ingin mengatakan sesuatu. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan perasaan ini. Di warung pak Ali kami akan bertemu, seperti halnya dulu, warung pak Ali adalah tempat favorit kami untuk nongkrong. Kita janjian jam 15.00 WIB, sengaja aku berangkat lebih awal, karena aku tahu Gilang adalah orang yang tepat waktu. Tiba-tiba ia datang dan mengejutkanku, ia pun kaget melihatku datang lebih awal, karena kebiasaanku dulu selalu telat kalau ada janji dengannya. Kemudian ia memulai obrolan,

“Kamu mau ngomong apa Nay?” tanyanya. Aku tidak tahu tiba-tiba saja keringat dinginku keluar semua, hari ini adalah hari yang kutunggu dari dulu. Tapi mengapa seperti ini, pada akhirnya dengan sedikit memaksa terlontarlah secara spontan.

“Umm, sebenarnya aku suka sama kamu.”

“Ha? Beneran Nay? Sejak kapan?” tanyanya.

“Sudah lama sih,” jawabku.

Tiba-tiba suasana menjadi hening, kalimatku meluncur begitu saja, tetapi mengapa aku masih keringatan, dan tanganku menjadi dingin seperti es batu. Selang beberapa menit kemudian barulah Gilang menjawabnya, dia ingin menjawab dan sekaligus mau bilang bahwa sebenarnya ia sudah memiliki kekasih yang satu bulan lagi ia akan menikahinya. Aku hanya terdiam dan kehabisan kata-kata mau menanggapinya. Lalu ia meminta maaf atas ketidaknyamanan pada hari itu.

Tidak terasa ternyata kami sudah satu jam di Warung Pak Ali, akhirnya kami pun pulang ke rumah masing-masing. Di sepanjang pulang kami hanya diam, sedangkan aku menahan air mataku yang sudah membendung sedari tadi. Sesampainya di rumah tangisku pecah,, dan mencoba untuk menenangkan diriku.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan